Rabu, 12 Agustus 2009

Survival of the Fittest

Anda kurang tampan? Kurang tinggi? Kerempeng? Kegemukan? Bodo matematika? Kabar bagus buat Anda. Semua itu tidak terlalu penting di masa sekarang. Pilihan bentuk pekerjaan semakin banyak.

Tukul Arowana beruntung memiliki wajah tidak tampan (itu menurut dia sendiri loh). Karena justru wajahnya itulah daya tarik kelucuannya. Dalam sejarah kelucuan, jarang komedian yang berwajah setampan Tom Cruise. Ketampanan tidak memancing tawa. Ketidaktampanan bisa menarik tawa. Tidak tampan jadi peluang. Kata Tukul, “Wajah desa, rejeki kota.”

Mamalia beruntung karena fisiknya yang kecil, karena itu makannya juga sedikit, membuatnya bertahan dari kepunahan masa dinosaurus. Orang Indonesia beruntung karena kulitnya yang coklat membuat resiko kanker kulit menurun walau terpapar banyak sinar matahari katulistiwa.

Sudahkah Anda tahu bahwa keheningan bisa dijual? Sekarang ada headphone yang digunakan untuk meredam suara. Pembelinya adalah mereka yang ingin tidur di perjalanan. Naik mobil bising. Naik pesawat pun bising. Maka keheningan pun menjadi mahal harganya. Lalu ada yang menjual penutup telinga, ya headphone khusus untuk meredam suara itulah. Pasang di telinga, kesunyian pun menemani Anda untuk bisa tidur nyenyak. Yang ‘fit’ adalah yang tidak ada bunyinya.

Kita selalu ingin menjadi yang ter dalam segala bidang. Tertampan, tertinggi, terpandai, terkuat, terkaya, dan lainnya. Padahal Tuhan menciptakan dunia ini dengan unik. Setiap kondisi ada kesempatan yang paling pas dengannya. Apakah Anda ingin jadi Presiden? Saya kok membayangkan tugas Presiden itu penuh protokoler yang menjemukan. Tapi pasti ada (dan banyak kayaknya) yang ingin jadi Presiden. Sebaliknya, banyak pula yang tidak mau jadi Presiden. Untuk bahagia pun ternyata perlu kegiatan yang ‘fit’ dengan jati diri kita.

Survival of the fittest

Adalah yang paling ‘fit’ yang akan bertahan. Arti ‘fit’ di sini adalah yang paling sesuai, bukan yang paling kuat. Anda mungkin bodoh matematika, tapi kalau tugas sebagai diplomat maka hal tersebut tidak relevan. Anda mungkin pendek, tapi kalau pekerjaan Anda adalah manajer produksi mungkin hal itu juga tidak relevan.

Kita beruntung sebagai manusia. Kita bisa memilih tempat kita untuk tinggal dan berjuang. Kalau Anda kurang pintar dalam akademis, tidak perlu ngotot jadi dosen. Mungkin Anda lebih cocok dalam lingkungan seniman, atau pebisnis. Kita bisa memilih tempat dimana kita bisa menjadi paling ‘fit’ dengan kondisi tertentu. Di situlah kita bisa unggul. Saya memegang dengan yakin konsep ‘survival of the fittest’ ini. Ada 3 kiat yang bisa Anda coba. Saya telah menggunakannya.

Kiat pertama adalah dengan menjadi ‘orang picak di kalangan orang buta’. Kita pasti mempunyai kemampuan yang unik dibanding teman lain, dan keunikan kita tersebut cocok dengan suatu kebutuhan kerja tertentu. Misalnya. Dalam kelompok tim insinyur yang jago teknologi, ternyata hanya kita yang hobi baca buku pemasaran. Jadilah kita punya ilmu yang mencampurkan teknologi dengan bisnis. Sebaliknya di kalangan pemasaran, mungkin kita yang paling ngerti teknologi. Inilah si picak di kalangan si buta.

Kiat ke dua adalah ‘bagai ikan dalam air‘, yaitu mencari pekerjaan dimana kekuatan kita menjadi menonjol dan kelemahan kita menjadi tidak relevan. Kalau kita pemalu untuk tampil, maka pekerjaan sebagai pengrajin (misalnya seniman, teknisi, auditor, dan sebagainya yang mengandalkan kerja mandiri) akan cocok, karena tidak memerlukan tampil ke banyak orang. Kalau kita pemalu, tak perlu mimpi menjadi vokalis band, sebaliknya fokus menjadi penulis lagu. Di setiap pekerjaan akan ada kondisi yang membuat kita paling fit dengannya.

Kiat ke tiga adalah ‘menjadi landak‘, yaitu mendalami keahlian hingga kita menjadi yang paling ahli di bidang itu. Jangan membayangkan keahlian yang canggih-canggih. Setiap hal ada ilmunya. Saya pernah melihat di televisi tentang seorang yang ahli membuat bubuk tinta dari arang pohon cemara. Hanya untuk mendalami seni membuat tinta diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menguasainya. Inilah spesialis yang disebut Peter Drucker sebagai ‘knowledge worker’. Di masa sekarang ini sebenarnya setiap orang adalah manajer dirinya sendiri. Anda bisa sewaktu-waktu dipecat. Namun jika Anda punya keahlian tinggi, peluang masih akan terbuka. Lalu mengapa banyak orang yang nganggur? Karena keahliannya cuma rata-rata. Makanya tidak dicari orang. Setiap hari orang masih mencari teknisi bengkel yang ahli, pemasar yang ahli, desainer yang ahli, tukang sate yang ahli, penjual cendol yang ahli. Setiap hari orang masih mencari. Sayangnya pasar tenaga kerja dipenuhi orang yang rata-rata, tidak menonjol, tidak ahli, tidak mastery.

Tiga kiat tersebut : si picak di kalangan orang buta, bagai ikan dalam air, dan menjadi landak, adalah kiat yang senantiasa relevan untuk menjadi ‘the fittest’.

Kiat sukses dunia akhirat dari Nabi

apa ya?Malu rasanya sering mengutip kiat sukses dari orang barat. Maka yang ini kiat dari Rasulullah. Dijamin lebih mustajab. Saya kutip dari situs Renungan Islam.

HADIS MUTHAHHARAH

Dari Sayyidina Khalid bin Al-Walid Radiallahu’anhu telah berkata : Telah datang seorang arab desa kepada Rasulullah S.A.W yang mana dia menyatakan tujuannya : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kedatanganku ini adalah untuk bertanya kepada engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku di dunia dan akhirat. Maka baginda S.A.W telah berkata kepadanya Tanyalah apa yang engkau kehendaki :

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang alim
Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang yang alim

Dia berkata : Aku mau menjadi orang paling kaya
Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri engkau maka engkau akan jadi orang paling kaya

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang adil
Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang paling baik
Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang istimewa di sisi Allah Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan zikrullah niscaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

Dia berkata : Aku mau disempurnakan imanku Baginda S.A.W menjawab : Perelokkan akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan orang yang muhsinin (baik)
Baginda S.A.W menjawab : Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan jika engkau tidak merasa begitu sekurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau maka dengan cara ini engkau akan termasuk golongan muhsinin

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang taat Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajipan yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

Dia berkata : Aku mau berjumpa Allah dalan keadaan bersih daripada dosa Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu daripada najis dosa niscaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci daripada dosa

Dia berkata : Aku mau dihimpun pada hari qiamat di bawah cahaya Baginda S.A.W menjawab : Jangan menzalimi seseorang maka engkau akan dihitung pada hari qiamat di bawah cahaya

Dia berkata : Aku mau dikasihi oleh Allah pada hari qiamat Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain niscaya Allah akan mengasihanimu pada hari qiamat

Dia berkata : Aku mau dihapuskan segala dosaku Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan beristighfar niscaya akan dihapuskan( kurangkan ) segala dosamu

Dia berkata : Aku mau menjadi semulia-mulia manusia Baginda S.A.W menjawab : Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain niscaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi segagah-gagah manusia Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa menyerah diri (tawakkal) kepada Allah niscaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

Dia berkata : Aku mau dimurahkan rezeki oleh Allah Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadas ) niscaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka

Dia berkata : Aku mau diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain niscaya engkau akan terselamat daripada kemurkaan Allah dan rasulNya

Dia berkata : Aku mau diterima segala permohonanku Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram niscaya segala permohonanmu akan diterimaNya

Dia berkata : Aku mau agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat
Baginda S.A.W menjawab : Tutuplah keburukan orang lain niscaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

Dia berkata : Siapa yang terselamat daripada dosa?
Baginda S.A.W menjawab : Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan,mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

Dia berkata : Apakah sebesar-besar kebaikan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian ( bala )

Dia berkata : Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ? Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi ( tidak diketahui ) dan menghubungkan kasih sayang

Dia berkata: Apakah yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat? Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah

tips kaya orang tionghoa

Tidak semua orang TiongHoa berhasil dalam usahanya. Tetapi rata-rata orang TiongHoa berhasil dalam usaha dan investasinya. Keberhasilan tersebut tentu saja tidak terjadi dengan kebetulan, melainkan ada tips atau resep tertentu yang memacu keberhasil tersebut.

Resep tersebut ternyata tidak lepas dari kebiasaan atau budaya orang TiongHoa. TiongHoa memiliki kebiasaan baik yang patut diikuti dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa resep berikut ini hanya sebagian kecil dari buku yang ditulis oleh Lie Charlie dengan judul “Resep Kaya ala TiongHoa – Financial Strategy”

Budaya Tionghoa yang sering disebut dan mudah dikenali antara lain :

Rajin menabung
. Rajin menabung adalah kunci sukses dari Tionghoa. Karena dengan diawali menabung Tionghoa mengumpulkan modan untuk berinvestasi.

Seluruh keluarga bekerja keras
. Tionghoa dalam setiap usahanya bekerja bersama membanting tulang seluruh keluarga.

Cermat.
Orang Tionghoa relatif cermat memilih investasi yang diyakini akan berhasil. Jika mendirikan sebuah pabrik, tentu sudah memperhitungkan kemana produknya akan dijual. Atau kemungkinan sudah mengantongi pesanan.

Bertahan
. Meskipun dilanda pergolakan ekonomi atau krisis moneter, orang Tionghoa selalu bertahan meskipun dengan mengurangi jumlah produksinya.

Setia kawan
. Orang Tionghoa juga dikenal setia terhadap teman sendiri. Kebalikannya, ia juga lebih mudah mencari dukungan dari sahabat bila menghadapi kesulitan dan membutuhkan bantuan.

Minggu, 24 Mei 2009

waktunya jadi wirausaha

Waktunya Kamu Jadi WIRAUSAHA !
Mau jadi orang kaya? Mau cepat mendapat pekerjaan? Mau memberi lapangan kerja ke temen-temen kamu? Jawabannya cuma satu: KAMU HARUS JADI WIRAUSAHA! Ya, jadi wirausaha karena kamu nantinya akan punya sebuah bisnis yang bisa memperkerjakan teman-temanmu, bekerja untuk pertumbuhan bisnismu sendiri, dan tentu saja kalau kamu pandai mengelola usahamu, KAYA bukan lagi impian!So, mau apa lagi? Berarti gak ada jalan lain khan kecuali menjadi pemilik usaha sendiri... Sebenarnya, menjadi pemilik usaha sendiri memiliki banyak sekali manfaat. Pertama, kamu-lah yang membentuk masa depanmu sendiri lewat apa yang akan kamu kerjakan di perusahaan kamu sendiri. Kedua, kamu bisa mengatur kehidupanmu dengan lebih bebas. Memiliki perusahaan sendiri berarti jam kerjamu bisa kamu atur sendiri, tidak terpancang seperti halnya menjadi karyawan. Tetapi, tetap aja disiplin menjadi nomor wahid kalau usahamu pingin berkembang dan bisa membesar terus... Ketiga, kamu bisa lebih bebas berkreasi. Coba deh kamu pikirkan kalau kamu jadi karyawan? Kreativitasmu pasti akan dibatasi oleh serangkaian aturan perusahaan atau izin dari bosmu sendiri. Kalau punya perusahaan sendiri, kamu bakal bisa menyalurkan kreativitas untuk bisnismu sendiri sesuka hatimu. Semakin kreatif kamu, usahamu juga bakalan bisa maju. Yang mengaturmu hanyalah mekanisme pasar, kamu harus berpikir kalau kreativitasmu bisa diterima pasar!Keempat, kamu bisa memberi lapangan pekerjaan yang sudah semakin sempit. Kalau usahamu mau berkembang, kamu harus rela untuk bisa berbagi tugas dengan orang lain. Tidak mungkin semua pekerjaan akan bisa kamu tangani sendiri tanpa kehadiran orang lain. Jadi, setiap wirausaha pasti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bisa berkarya bersama kamu. Top abis gak tu??Kelima, kamu bisa lebih nyata berbuat untuk bangsa dan negara. Kayaknya yang satu ini memang rada muluk-muluk, tapi percayalah dengan menjadi pemilik usaha mandiri, kamu akan bisa lebih banyak berbuat untuk bangsa dan negara. Pertama, kamu pasti nantinya akan menjadi wajib pajak dan membayar pajak atas penghasilan usahamu. Kedua, kamu memberi tambahan lapangan pekerjaan walaupun hanya untuk seoran saja. Ketiga, kamu juga bisa memberi inspirasi ke orang lain-yang lebih banyak lagi-untuk semakin mau menjadi wirausaha... Berarti kamu khan bakal memberikan kontribusi ke negara yang lebih besar lagi khan? So, mengapa harus bingung? Tetapkan hati, jadilah WIRAUSAHA saat ini juga!

waktunya jadi wirausaha

Waktunya Kamu Jadi WIRAUSAHA
!Mau jadi orang kaya? Mau cepat mendapat pekerjaan? Mau memberi lapangan kerja ke temen-temen kamu? Jawabannya cuma satu: KAMU HARUS JADI WIRAUSAHA! Ya, jadi wirausaha karena kamu nantinya akan punya sebuah bisnis yang bisa memperkerjakan teman-temanmu, bekerja untuk pertumbuhan bisnismu sendiri, dan tentu saja kalau kamu pandai mengelola usahamu, KAYA bukan lagi impian!So, mau apa lagi? Berarti gak ada jalan lain khan kecuali menjadi pemilik usaha sendiri... Sebenarnya, menjadi pemilik usaha sendiri memiliki banyak sekali manfaat. Pertama, kamu-lah yang membentuk masa depanmu sendiri lewat apa yang akan kamu kerjakan di perusahaan kamu sendiri. Kedua, kamu bisa mengatur kehidupanmu dengan lebih bebas. Memiliki perusahaan sendiri berarti jam kerjamu bisa kamu atur sendiri, tidak terpancang seperti halnya menjadi karyawan. Tetapi, tetap aja disiplin menjadi nomor wahid kalau usahamu pingin berkembang dan bisa membesar terus... Ketiga, kamu bisa lebih bebas berkreasi. Coba deh kamu pikirkan kalau kamu jadi karyawan? Kreativitasmu pasti akan dibatasi oleh serangkaian aturan perusahaan atau izin dari bosmu sendiri. Kalau punya perusahaan sendiri, kamu bakal bisa menyalurkan kreativitas untuk bisnismu sendiri sesuka hatimu. Semakin kreatif kamu, usahamu juga bakalan bisa maju. Yang mengaturmu hanyalah mekanisme pasar, kamu harus berpikir kalau kreativitasmu bisa diterima pasar!Keempat, kamu bisa memberi lapangan pekerjaan yang sudah semakin sempit. Kalau usahamu mau berkembang, kamu harus rela untuk bisa berbagi tugas dengan orang lain. Tidak mungkin semua pekerjaan akan bisa kamu tangani sendiri tanpa kehadiran orang lain. Jadi, setiap wirausaha pasti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bisa berkarya bersama kamu. Top abis gak tu??Kelima, kamu bisa lebih nyata berbuat untuk bangsa dan negara. Kayaknya yang satu ini memang rada muluk-muluk, tapi percayalah dengan menjadi pemilik usaha mandiri, kamu akan bisa lebih banyak berbuat untuk bangsa dan negara. Pertama, kamu pasti nantinya akan menjadi wajib pajak dan membayar pajak atas penghasilan usahamu. Kedua, kamu memberi tambahan lapangan pekerjaan walaupun hanya untuk seoran saja. Ketiga, kamu juga bisa memberi inspirasi ke orang lain-yang lebih banyak lagi-untuk semakin mau menjadi wirausaha... Berarti kamu khan bakal memberikan kontribusi ke negara yang lebih besar lagi khan? So, mengapa harus bingung? Tetapkan hati, jadilah WIRAUSAHA saat ini juga!

Rabu, 20 Mei 2009

Totalitas Total Football
Liza Arifin - detiksport



(sport.it)

London - Total Football bagi saya adalah sistem permainan sepakbola yang paling menarik. Tetapi memahami Total Football ternyata tidak segampang yang saya duga. Berulangkali membaca berbagai literatur dan artikel sepakbola, susah menemukan penjelasan mengapa dan bagaimana Total Football muncul. Hanya dengan memahami mengapa dan bagaimana, kita bisa memahami esensi sesuatu.

Yang standar tentu saja kita tahu bahwa sistem ini pertama kali muncul di Belanda dengan permainan bertumpu pada fleksibilitas pertukaran posisi pemain yang mulus. Posisi pemain sekadar kesementaraan yang akan terus berubah sesuai kebutuhan. Karenanya, semua pemain dituntut untuk nyaman bermain di semua posisi.

Penjelasan paling memuaskan malah bukan saya dapat dari orang Belanda, melainkan seorang penulis Inggris yang tergila-gila dengan sepakbola Belanda. David Winner menulis buku yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira berjudul, "Oranye Brilian -- Jenius dan Gilanya Sepakbola Belanda".

Orang Belanda sendiri sampai terkagum-kagum dan mengatakan, ''Ah, jadi begitukah cara berpikir kami.'' Banyak pemain bola Belanda seperti tersadarkan pada sosok yang berada di dalam kaca ketika mereka bercermin.

Winner tidak membahas sepakbola semata. Menurutnya Total Football hanyalah pengejawantahan ''psyche'' paling dasar warga Belanda dalam memahami kehidupan. Benang merah Total Football juga ada dalam karya seni, arsitektur, dan bahkan tatanan sosial budaya masyarakat Belanda.

Berlebihan? Mungkin. Namun penjelasannya sungguh masuk akal.

Kita semua tahu ukuran lapangan sepakbola lebih kurang sama di mana-mana, sehingga ruang permainan selalu sebenarnya sama. Tapi orang Belanda sadar bahwa ruang juga adalah persoalan abstrak di dalam kepala. Membesar dan mengecilnya ruang tergantung pada cara mengeksploitasinya.

Total Football, demikian jelas buku itu, adalah persoalan ruang dan eksploitasinya itu, bukan yang lain. Fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain, semuanya adalah konsekuensi dari upaya untuk menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin.

Prinsip dasarnya sebenarnya sangat sederhana. Besar kecilnya lapangan sepakbola walau ukurannya sama, tetapi di benak bisa berubah tergantung siapa yang bermain di dalamnya.

Misalnya, begitu pemain Belanda menguasai bola maka mereka akan membuat lapangan seluas mungkin. Pemain bergerak ke setiap jengkal ruang yang tersedia. Di benak lawan lapangan akan tampak begitu lebar.

Atau, begitu lawan menguasai bola, ruang harus dibuat sesempit mungkin. Pemain yang terdekat dengan pemain lawan yang menguasai bola dituntut untuk menutupnya secepat mungkin, tidak peduli apakah itu pemain bertahan atau bukan. Bisa satu bisa dua, bahkan tiga. Tekanan harus dilakukan secepat mungkin bahkan ketika bola masih ada di jantung pertahanan lawan. Lawan terjepit dalam benak bahwa lapangan begitu sempit.

Memperlebar atau mempersempit ruangan di benak lawan tentu bukan barang mudah. Harus ada kemampuan untuk mencari ruangan. Pergerakan yang kompak. Cara mengumpan bola yang eksploitatif atas ruang yang tersedia, entah melengkung, lurus, melambung, dll. Pendeknya dibutuhkan pemahaman geometri ruangan yang tidak sederhana.

Persoalannya adalah, mengapa hal ini tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya? Dan mengapa orang Belanda yang bisa melakukannya?

Jawabnya, menurut buku itu, didapat dari kondisi alam Belanda.

Bangsa Belanda secara intrinsik bangsa yang spatial neurotic (tergila-gila oleh ruangan ataupun pemanfaatannya). Kondisi alam memaksa mereka demikian. Lima puluh persen tanahnya berada di bawah permukaan laut. Sementara sisanya terlalu sempit untuk jumlah penduduk yang berjubel.

Terus menerus bangsa ini melakukan reklamasi untuk memperluas daratan. Dengan sadar persoalan tanah mereka atur dengan sangat disiplin dan ketat. Eksistensi bangsa ini tergantung bagaimana mereka merawat tanah yang tak seberapa mereka punya. Kanal, selokan air, bendungan kecil dan besar, teratur rapi membelah setiap jengkal tanah yang mereka punya.

Belanda hingga saat ini adalah negara paling padat dalam ukuran per meter persegi, dan pengaturan tanahnya adalah yang paling teratur di muka bumi.

Namun seberapa pun mereka mencoba, seberapa pun disiplinnya, tanah tidak akan pernah cukup tersedia.

Lalu apa yang dilakukan?

Jawabnya ada di daya khayal, di benak, di alam abstraksi. Di samping secara fisik mereka mencoba memperluas wilayah darat mereka, mereka juga menciptakan ruang yang luas dialam khayal mereka.

Kalau Anda kebetulan datang ke Eropa, bandingkanlah tata kota Belanda dengan negara lain. Kita akan segera sadar bahwa Belanda memang lebih sempit tapi tata kotanya dibuat sedemikian rupa rapi, sehingga terasa sangat longgar. Dibanding negara manapun di dunia, tata kota di Belanda adalah yang paling kompak di dunia.

Arsitektur bangunannya, baik yang tua maupun modern, terasa sangat inovatif, dengan sudut yang sering tidak normal, bentuk bangunan yang tidak umum, aneh, tetapi kesannya selalu sama—longgar dan lapang. Karena semua lekuk ketidaknormalan adalah bagian dari upaya untuk menciptakan ruang tambahan di alam khayal tadi.

Bahkan benak juga dilonggarkan untuk urusan norma sosial. Kalau etika Protestan semarak di Belanda di awal kelahirannya, sangatlah bisa dimengerti. Mereka secara instingtif akan memberontak terhadap segala sesuatu yang sifatnya mengukung. Dalam kasus kelahiran Protestan tentu saja pemberontakan atas kungkungan ajaran Katolik saat itu.

Proses itu terus berlanjut hingga sekarang. Kita tahu norma sosial Belanda adalah yang paling longgar di Eropa. Kelonggaran yang tetap diatur. Misalnya, mainlah ke Vondell Park di Amsterdam, bolehlah Anda menghisap ganja atau mariyuana dengan santai. Padahal di negara lain sembunyi-sembunyi pun Anda tidak boleh.

Jejak-jejak spatial neurotic ini bisa kita temukan dengan mudah di karya-karya seni mereka bahkan di kehidupan politik, tetapi kembali ke persoalan sepakbola, mentalitas pemain sepakbola juga sama persis. Ketika mereka turun ke lapangan, benak mereka selalu bermain-main dengan keinginan untuk menciptakan ruangan selonggar mungkin, lalu mengeksploitasinya.

Ketika Rinus Michel membawa Ajax menjadi juara Piala Champions tahun 1971, Eropa tersadarkan sebuah sistem baru yang mulai sempurna telah lahir. Sistem yang lahir dari psyche orang Belanda yang tergila-gila dengan ruang dan pemanfaatannya. Dan ketika Michel membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 lahirlah istilah Total Football.

Total Football sendiri sebenarnya meminjam penamaannya dari gerakan sosial yang digagas para arsitek-filosof terkemuka Belanda sekitar tahun 1970-an. Sebuah gerakan bernama Total. Memahami kehidupan perkotaan secara menyeluruh: mengatur urbanisasi, lingkungan, dan pemanfaatan energi dalam satu totalitas. Agar ruang yang tersedia di Belanda bisa termanfaatkan secara maksimal. Dan sepakbola adalah sebuah hiburan bagian dari pendekatan yang menyeluruh itu. Totalitas. Namanya: Total Football.
Menyemai Ragu di Benak
Liza Arifin - detiksport





London - Dalam kompetisi sepakbola di Inggris ada periode tiga bulan yang sangat menentukan: Desember, Januari, Februari. Di tiga bulan ini pertandingan begitu padat, otomatis jumlah angka yang diperebutkan begitu besar, dan karenanya biasanya akan terbaca klub mana yang akan menjadi juara ataupun terdegradasi.

Di tiga bulan itu pertarungan tidak lagi semata-mata ada di lapangan tetapi di kepala dan hati. Pergolakan yang ada di kepala dan hati menjadi lebih penting karena apa yang terjadi di lapangan seringkali sekadar cerminan pergolakan tadi.

Coba perhatikan betapa di tiga bulan itu frekuensi bertukar kata antarmanajer sangat tinggi. Saling kecam, saling kritik, saling ejek, saling merendahkan, dan (sebenarnya) saling menyemai ragu di benak lawan. Terutama di antara sesama saingan. Manajer melakukan itu bukan sekadar untuk menanam keraguan di benak manajer lain tetapi juga di benak pemain lawan.

Cara mereka melakukan itu tentu saja dengan kejenialan masing-masing manajer. Alex Ferguson adalah salah satu manajer jagoan untuk urusan seperti ini.

Salah satu yang selalu diingat orang adalah kompetisi tahun 1995/1996 ketika Manchester United bersaing dengan Newcastle.

Tertinggal 12 angka di bulan Januari, Ferguson dengan santai meragukan kesungguhan tim-tim di Inggris bila tidak melawan MU. Beberapa tim yang disebut saat itu adalah mereka yang akan melawan Newcastle di lanjutan kompetisi.

Kevin Keegan yang saat itu menjadi manajer Newcastle, dalam sebuah wawancara siaran langsung di telivisi tak mampu mengendalikan emosi menghadapi tuduhan Ferguson itu. Dengan sorot mata merah, suara serak marah, ia menyumpah akan sangat bergembira kalau bisa mengalahkan MU.

Yang terjadi kemudian, entah kebetulan atau tidak, lawan-lawan Newcastle selalu bermain kesetanan, sementara Keegan seperti kehabisan akal menata anak asuhnya. MU kemudian menjadi juara.

Tetapi jangan salah, ini bukan kelakuan Ferguson seorang. Jose Mourinho juga tak kalah lihainya.

Ketika ia pertama kali datang ke Chelsea tahun 2004 dengan percaya diri ia menobatkan diri sebagai The Special One. Dan kapan ia mengulang-ulang kembali pernyataannya ini, bulan Desember. "Aku tak butuh menonjolkan prestasiku, tim yang pegang The Special One selalu hebat. Kecuali Ferguson, tidak ada yang menyamaiku di negeri ini, pernah memenangi Liga Champions."

Arogan tetapi menumbuhkan efek percaya diri luar biasa bagi Chelsea dan membuat musuh harus mengakui.

Arsene Wenger? Tak kalah lihainya. Ketika musim kompetisi 2004/2005 ia melihat Chelsea-lah lawan satu-satunya saat itu untuk berebut juara liga. MU dan Liverpool sibuk membangun kembali kekuatan mereka sehingga belum di puncak.

Menjelang Desember tiba-tiba muncul tuduhan dari Wenger bahwa Mourinho terobsesi apapun yang serba Arsenal. Satu persoalan yang sebenarnya dipicu sejak musim kompetisi sebelumnya dengan kepindahan Ashley Cole yang tidak mulus. Tetapi Wenger menunggu hingga kompetisi masuk jadwal padat Desember, Januari, Februari.

Saling tuding pun akhirnya terjadi. Mourinho balas menuduh Wenger keranjingan dengan segala sesuatu yang berbau Chelsea.

Mereka bahkan saling ancam akan membawa masing-masing pihak ke pengadilan. Wenger dan Mourinho bahkan katanya sudah saling menumpuk bukti akan obsesi masing-masing itu.

Apa yang terjadi? Nol besar. Karena memang yang terjadi adalah sekadar perang urat syaraf untuk menanamkan keraguan di benak, memupus rasa percaya diri lawan. Siapa yang tak kuat biasanya akan ambruk.

Kalau untuk musim kompetisi sekarang cobalah perhatikan apa yang terjadi antara Alex Ferguson dan Rafael Benitez sejak Desember. Menarik. Juga memberi gambaran tim mana yang sebenarnya sedang bersaing kuat untuk berebut juara.